Kaltim

Hutan Adat Patiraja, Seruling Bambu, dan Asa Regenerasi di Kampung Dumaring

Titikinfo.com, Berau — Di tengah rindangnya Hutan Adat Patiraja, langkah-langkah kaki muda berderak menimpa dedaunan kering. Mereka melangkah bersama para tetua kampung yang usianya rata-rata telah melewati kepala enam. Hari itu, tidak ada papan tulis maupun ruang kelas kaku. Yang ada hanyalah riak air, pepohonan tinggi, serta petunjuk dari tangan-tangan terampil para maestro adat Dumaring yang sedang mentransfer warisan ilmu leluhur kepada generasi penerus.

Pemandangan tersebut merupakan bagian dari program Belajar Dari Maestro, sebuah terobosan dalam rangkaian Festival Rindu Dumaring 2026. Melalui program ini, konservasi hutan dan pelestarian budaya tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan berkelindan menjadi satu nafas.

Kordinator Fasilitator, Nanda Mulyana mengungkapkan bahwa logika yang dibangun di Dumaring sengaja membalik pakem konservasi arus utama. Jika biasanya konservasi dipenuhi rentetan larangan, maka di Dumaring jalurnya diawali dari pemanfaatan.

“Kalau di mana-mana konservasi berisi larangan, kami di sini justru mendorong masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya alam secara bijak. Ketika masyarakat sudah merasa butuh dan merasakan manfaatnya, secara alami mereka yang akan menjaga hutan itu,” tutur Nandang.

Dalam program ini, sekitar 60 anak muda dari tingkat SD hingga pemuda kampung diajak mendalami lima klaster seni dan kearifan lokal, menyumpit, membuat seruling, seni bela diri Bakuntau, meramu obat herbal tradisional, dan menganyam rotan.

Prosesnya tak instan. Sebelum praktik dimulai, peserta diajak menyusuri Hutan Adat Patiraja untuk mengenali tanaman dan mengambil bahan baku secara langsung bersama para maestro.

Masing-masing tradisi menyimpan filosofi menjaga alam. Pada kelas menyumpit, misalnya, anak-anak muda tidak sekadar diajari teknik membidik sasaran. Mereka juga dibekali pantangan adat yang diwariskan secara turun-temurun.

“Ada aturan ketat, tidak boleh menyumpit binatang yang sedang minum, makan, atau sedang hamil. Ratusan tahun masyarakat Dayak menyumpit, populasi satwa tetap terjaga karena ada etika konservasi berkelanjutan di dalamnya,” jelas Nandang.

Pentingnya regenerasi ini kian terasa mengingat para pemilik keahlian tersebut kini makin sepuh. Tanpa adanya intervensi, keahlian langka ini berisiko sirnah dalam dekade mendatang.

Uniknya, semangat mempelajari budaya Dumaring ini tidak hanya datang dari pemuda etnis Dayak Baloi, tetapi juga melebur bersama anak-anak muda dari etnis Timor , Sulawesi, Hingga Jawa yang bermukim di Kampung Dumaring.

Guna menyambung lidah para maestro yang kerap canggung mengajar, panitia menerjunkan fasilitator budaya sebagai penjelas dan pembimbing. Untuk menjaga nyala semangat belajar ini agar tidak padam seusai festival, sebuah wadah permanen tengah disiapkan, salah satunya Perguruan Bakuntau bertajuk Lilingai Jiwata Dumaring serta sanggar seni bersama PKK setempat.

Inisiatif kolaboratif yang dirancang oleh Aksenta atau PT Gagas Dinamiga Aksenta dan didukung oleh KLK Group ini diharapkan menjadi modal panjang bagi kemandirian warga, baik dari sisi pelestarian identitas maupun potensi ekonomi berbasis pariwisata budaya di masa depan.

Bagi Nandang, keterikatan anak muda dengan akar budayanya adalah kunci utama. Menutup perbincangan, ia melayangkan pesan hangat untuk para generasi muda yang terlibat.

“Jangan setengah-setengah dalam belajar. Keterampilan yang sangat spesifik dan berbasis kearifan lokal ini justru akan makin langka dan berharga di masa depan. Ilmu itu tidak berat dibawa ke mana-mana, jika ditekuni sampai ahli, ia akan menjadi nilai hidup yang membanggakan.” Tandasnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button