Pemkab Nunukan

Dayak dan Etnis Timor Sepakat Akhiri Perselisihan, Bupati Nunukan Tekankan Perdamaian

TITIKINFO.COM, NUNUKAN – Suasana penuh kekeluargaan mewarnai prosesi penyelesaian dan perdamaian adat antara masyarakat Dayak dan etnis Timor di Jalan Sei Sembilang, Kelurahan Selisun, Kecamatan Nunukan Selatan, Rabu (16/9/2026).

Pertemuan yang dimulai pukul 09.00 WITA itu menjadi momentum untuk memulihkan hubungan sosial sekaligus memperkuat kembali persaudaraan kedua kelompok setelah munculnya konten bernuansa penghinaan terhadap suku Dayak di media sosial pada awal Agustus 2026.

Sekitar 100 orang hadir dalam prosesi tersebut, terdiri dari unsur Pemkab Nunukan, TNI-Polri, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat serta warga setempat. Bupati Nunukan H. Irwan Sabri hadir bersama Wakil Bupati Hermanus dan Pj. Sekda Nunukan Drs. H. Raden Iwan Kurniawan.

Kepala Kesbangpol Nunukan Hasan Basri menegaskan, pertemuan tersebut bukan untuk mencari pihak yang benar atau salah, melainkan memulihkan hubungan dan memastikan persoalan tidak berkembang menjadi konflik antarkelompok.

Ketua Kerukunan NTT Nunukan, Ambrosius Lambe Tukan, menyatakan komitmen masyarakat NTT untuk menjaga perdamaian lintas etnis, agama dan golongan. Ia juga mengecam penyebaran ujaran kebencian dan penghasutan melalui media sosial pada 3 Agustus 2026.

Atas nama masyarakat NTT, Ambrosius menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat sikap maupun tindakan warga NTT yang menimbulkan ketidaknyamanan. Ia menegaskan masyarakat NTT yang hidup di Kalimantan berkomitmen menjaga dan merawat perdamaian.

Sementara itu, Ketua Lembaga Adat Dayak (LAD) Kabupaten Nunukan Heri Agung Alang mengapresiasi seluruh pihak yang mendorong terwujudnya perdamaian. Ia mengajak kedua kelompok menjadikan persoalan tersebut sebagai pembelajaran bersama.

“Yang kita putus adalah permusuhan, bukan persaudaraan. Yang kita akhiri adalah perselisihan, bukan hubungan kekeluargaan,” tegas Heri.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Setiap persoalan diharapkan diselesaikan dengan kepala dingin melalui musyawarah, mekanisme adat dan tetap menghormati hukum yang berlaku.

Bupati Nunukan H. Irwan Sabri menegaskan bahwa Nunukan merupakan rumah bersama bagi masyarakat yang memiliki beragam suku, agama, budaya dan latar belakang.

Menurutnya, keberagaman bukan sesuatu yang harus memisahkan masyarakat, tetapi menjadi kekayaan budaya sekaligus kekuatan sosial daerah.

“Jangan mudah terpancing oleh informasi yang belum jelas, potongan informasi di media sosial maupun kabar yang belum dapat dipastikan kebenarannya,” pesan Bupati.

Ia meminta masyarakat membiasakan diri menahan diri, memastikan kebenaran informasi dan mengedepankan komunikasi sebelum mengambil tindakan. Persoalan sosial diselesaikan melalui dialog dan musyawarah, persoalan adat melalui mekanisme adat, sementara persoalan hukum diserahkan kepada ketentuan yang berlaku.

Komitmen perdamaian kemudian dituangkan dalam ikrar bersama. Kedua pihak sepakat mengakhiri perselisihan, saling menghormati suku, adat, budaya, agama dan martabat masing-masing, serta tidak mengulangi tindakan yang dapat memicu konflik.

“Kita boleh berbeda suku, budaya dan latar belakang, tetapi kita hidup di tanah yang sama, bekerja di daerah yang sama, dan anak-anak kita akan tumbuh di tempat yang sama,” ujar Bupati.

Prosesi ditutup dengan kesepakatan bersama untuk menjaga keamanan, ketenteraman dan keharmonisan masyarakat Kabupaten Nunukan. (*)

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button